Kamis, 28 Desember 2017
Peristiwa Tinju Dunia: Joshua Juara, Pacquiao Kalah, Hague Tewas
Desember 28, 2017
No comments
TEMPO.CO, Jakarta - Sepanjang tahun 2017 terjadi beberapa peristiwa besar dalam percaturan tinju dunia. Diawali pada bulan April, ketika penguasa kelas berat Wladimir Klitschko harus mengakhiri dominasinya selama hampir 10 tahun setelah dikalahkan Anthony Joshua.
Berikut adalah 5 peristiwa yang patut dicatat dalam tinju profesional dunia sepanjang 2017:
1. Anthony Joshua menang TKO 11 atas Wladimir Klitschko.
Joshua sebagai juara kelas berat IBF, menantang Klitschko untuk bertanding di Stadion Wembley, London pada 29 April 2017. Pertarungan itu merupakan unifikasi gelar kelas berat IBF dan WBA, yang sabuknya dikuasai Klitschko.
Perbedaan usia antara Klitschko (41 tahun) dan Joshua (29 tahun) akhirnya berperan dalam laga tersebut. Setelah Klitschko knock down di ronde 5 dan Joshua ronde 6, laga tersebut akhirnya dimenangi Joshua di ronde 11.
Dengan kondisi fisik yang lebih bugar, Joshua mampu mengatasi Klitschko yang kedodoran di ronde akhir. Berakhir sudah dominasi Klitschko yang hampir 10 tahun menjadi juara dunia kelas berat. Setelah kalah, Klitschko memutuskan pensiun.
2. Jeff Horn menang angka atas Manny Pacquiao.
Sebelum bertanding melawan Pacquiao, Horn adalah petinju tidak terkenal dari Brisbane, Australia. Tahun 2013, Horn hanya tampil dalam partai tambahan penampilan Chris John di Perth melawan Simpiwe Vetyeka pada 6 Desember.
Pada awal 2017, Horn mendapatkan kesempatan menantang Pacquiao yang juara kelas welter WBO dalam sebuah pertarungan wajib. Laga keduanya disepakati digelar di Suncorp Stadium, Brisbane, pada 2 Juli. Pacquiao jauh lebih diunggulkan dalam laga tersebut karena reputasinya yang sudah melegenda.
Di atas ring, Horn menunjukkan penampilan yang luar biasa. Dia mampu meredam keganasan Pacquiao dengan menekannya tanpa memberikan ruang gerak. Setelah melalui pertaruingan panjang 12 ronde yang penuh darah, Horn akhirnya dinyatakan menang angka.
Floyd Mayweather menang TKO 10 atas Conor McGregor.
Pertarungan Floyd Mayweather Jr vs Conor McGregor layak disebut sebagai tontotan tinju paling menghebohkan tahun 2017. Itu karena gaya promosi mereka yang luar biasa, dan dilakukan di tiga negara: Amerika, Kanada, dan Inggris.
Mayweather vs McGregor adalah laga besar pertama antara dua petarung dari disiplin yang berbeda. Mayweather adalah juara tinju tak terkalahkan, sedangkan McGregor atlet tarung bebas paling terkenal di dunia yang melakukan debut di tinju profesional.
Di atas ring pengalaman Mayweather lebih berbicara ketimbang tenaga McGregor. Lewat kecerdikan mengatur irama pertarungan, Mayweather mampu membuat McGregor kehabisan nafas setelah bertanding 5 ronde. Akhirnya Mayweather yang saat itu berusia 40 tahun mampu menang TKO atas McGregor yang berusia 29 tahun.
Yamaha Tetap Akan Kesulitan Sekalipun Lorenzo Bertahan
Desember 28, 2017
2 comments
Jakarta - Yamaha gagal bersaing dengan Honda dan Ducati di musim 2017. Bos Yamaha Lin Jarvis menilai situasi timnya akan sama seandainya Jorge Lorenzo tetap bertahan.
Pebalap Spanyol itu hengkang ke Ducati setelah menghabiskan sembilan musim bersama pabrikan Jepang itu. Selama periode tersebut, Lorenzo sukses menggondol tiga titel juara dunia, sampai digantikan Maverick Vinales.
Duet Vinales dan Valentino Rossi tidak sanggup berbuat banyak usai hanya meraih empat kemenangan dalam 18 seri. Cengkeraman bagian belakang motor menjadi masalah motor mereka di sepanjang musim sehingga Vinales hanya mampu finis ketiga dan Rossi kelima di klasemen akhir.
Pebalap Spanyol itu hengkang ke Ducati setelah menghabiskan sembilan musim bersama pabrikan Jepang itu. Selama periode tersebut, Lorenzo sukses menggondol tiga titel juara dunia, sampai digantikan Maverick Vinales.
Duet Vinales dan Valentino Rossi tidak sanggup berbuat banyak usai hanya meraih empat kemenangan dalam 18 seri. Cengkeraman bagian belakang motor menjadi masalah motor mereka di sepanjang musim sehingga Vinales hanya mampu finis ketiga dan Rossi kelima di klasemen akhir.
"Apakah kami merindukan dia (Lorenzo) sampai seperti itu? Tidak," ucap Jarvis di Autosport. "Tentu saja kami memiliki hubungan yang panjang dengan Jorge, dia memenangi tiga titel juara dunia dengan kami. Jadi kami punya banyak memori indah tentang Jorge dan kami masih melihat dia di sekitar paddock."
"Saya pikir kami masih akan tetap mengalami masalah yang sama yang kami punya dengan Jorge maupun tanpa dia. Saya merindukan dia dalam level sosial, tapi saya pikir tidak dalam kaitannya dengan performa tim."
"Maverick menjalani sebuah musim yang sangat bagus dengan kami, finis ketiga, dia membuat sebuah langkah maju. Secara potensi dia bisa saja mendapatkan hasil lebih baik kalau kami memberi dia peralatan yang lebih baik," lanjut Jarvis.
"Apa yang sudah kami lalui dengan Jorge merupakan momen yang hebat. Namun, sekarang kami berada di jalan yang berbeda dan itu juga bagus."
"Saya pikir kami masih akan tetap mengalami masalah yang sama yang kami punya dengan Jorge maupun tanpa dia. Saya merindukan dia dalam level sosial, tapi saya pikir tidak dalam kaitannya dengan performa tim."
"Maverick menjalani sebuah musim yang sangat bagus dengan kami, finis ketiga, dia membuat sebuah langkah maju. Secara potensi dia bisa saja mendapatkan hasil lebih baik kalau kami memberi dia peralatan yang lebih baik," lanjut Jarvis.
"Apa yang sudah kami lalui dengan Jorge merupakan momen yang hebat. Namun, sekarang kami berada di jalan yang berbeda dan itu juga bagus."
Minggu, 03 Desember 2017
Praveen/Debby Diminta Beri Bukti di Dubai
Desember 03, 2017
No comments
Jakarta - Praveen Jordan/Debby Susanto diminta melaju jauh pada Super Series Masters Finals di Dubai pertengahan Desember ini. Jangan sampai mereka terhenti di babak grup.
Praveen/Debby babak belur pada dua turnamen super series paling akhir. Mereka terhenti di babak pertama China Terbuka Super Series Premier dan Hong Kong Terbuka Super Series.
Torehan itu jauh dari target. Mereka tampil sebagai unggulan pertama dan kedua pada dua turnamen tersebut.
"Saya persiapkan mereka (ke Dubai) dengan maksimal dan sejauh ini persiapanya oke. Termasuk fokus dan kosentrasi untuk memenangkan tiap game-nya," kata Richard kepada detikSport, Minggu (3/12/2017).
"Saya berharap Praveen (Jordan) bisa konsisten jalanin program hingga pekan depan jelang keberangkatan karena ini penilaian terakhir buat saya untuk memastikan apa mereka pantas menjadi pasangan kedua mendampingi Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir untuk Asian Games 2018," dia menambahkan.
Sepanjang tahun ini. Praveen/Debby memang menunjukkan penampilan yang naik turun. Hasil terbaik dicatatkan Praveen/Debby di Korea Terbuka dengan sukses menjadi juara.
Aceh World Solidarity Games, Timnas Indonesia Menang Telak
Desember 03, 2017
No comments
BANDA ACEH, KOMPAS.com - Tim nasional Indonesia mengawali Aceh World Solidarity Games 2017 dengan apik. Pada pertandingan di Stadion Harapan Bangsa, Banda Aceh, Sabtu (2/12/2017), timnas Indonesia menang telak 4-0 atas timnas Brunei Darussalam.
Hansamu Yama, Septian David Maulana, Fachruddin Wahyudi, dan Yabes Roni adalah pada pemain Indonesia yang mencatatkan namanya di papan skor pada laga tersebut.
Diguyur hujan deras, timnas Indonesia mendominasi jalannya pertandingan yang dimulai pukul 21.30 WIB. Sejumlah peluang mampu dihasilkan Ilija Spasojevic dkk.
Publik Aceh bersorak pada menit ke-18 setelah timnas unggul lewat sepakan jarak dekat Hansamu Yama. Dia memanfaatkan kemelut di depan gawang Brunei selepas sepak pojok yang dieksekusi Febri Hariyadi.
Tujuh menit berselang, timnas berhasil memimpin dua gol. Kali ini, giliran Septian David Maulana. Pemain Mitra Kukar itu sukses mengonversi tendangan bebas yang gagal diantisipasi kiper Brunei.
Skor berubah menjadi 3-0 pada menit ke-68. Lewat situasi bola mati, tendangan Putu Gede diselesaikan Fachruddin.
Satu menit menjelang waktu normal habis, Yabes Roni menutup pesta gol timnas seusai memanfaatkan umpan Hanif Sjahbandi. Skor akhir 4-0 untuk kemenangan pasukan Luis Milla.
Hasil ini membuat timnas memimpin klasemen sementara. Mereka unggul selisih gol dibandingkan Kirgistan yang menang 3-0 atas Mongolia pada pertandingan pertama.
Aceh World Solidarity Games 2017 menggunakan format setengah kompetisi. Semua tim akan saling berhadapan sekali.
Partai kedua akan dimainkan pada Senin (4/12/2017).
Susunan starter timnas Indonesia vs Brunei:
Indonesia (4-2-3-1): Andritany Ardhiyasa; I Putu Gede Juni Antara, Fachrudin Aryanto, Hansamu Yama Pranata, Ricky Fajrin Saputra; Hanif Sjahbandi, Muhammad Hargianto; Miftahul Hamdi, Septian David Maulana
Sadam Ali Bikin Akhir Karier Cotto Terasa Pahit
Desember 03, 2017
No comments
NEW YORK - Miguel Cotto mengakhiri kariernya dengan sad ending. Petinju legendaris asal Puerto Riko itu menyerah dengan angka mutlak pada laga pamungkas melawan Sadam Ali dalam perburuan gelar kelas menengah WBO di Madison Square Garden, New York, Amerika Serikat, Sabtu (2/12/2017) atau Minggu (3/12/2017) siang WIB.
Ali, petinju Amerika Serikat keturunan Yaman, itu membuktikan prediksi penggemar tinju dunia yang menjagokan dirinya. Pertarungan yang berlangsung 12 ronde tersebut menghasilkan keputusan bulat para hakim. Ali menang angka mutlak berdasarkan penilaian hakim Julie Lederman (115-113), Eric Marlinski (116-112), dan Steve Weisfeld (115-113).
Dengan sukses ini Ali memperpanjang rekor kemenangan 26 kali menang (14 menang KO) dan 1 kali kalah. Dalam kariernya, Ali juga jawara Olimpiade 2008. "Saya bekerja keras untuk memenangkan ini," kata Ali. "Saya memanfaatkan pertarungan ini, dan saya memastikannya untuk memperhitungkan ini. Saya bersyukur kepada Tuhan, dan juga berterima kasih kepada Tim Cotto."
Sementara bagi Cotto, ini merupakan kekalahan keenam sepanjang kariernya, dan dia harus rela melepaskan sabuk juaranya yang baru dia kenakan pada bulan Agustus lalu. Cotto mencatat rekor 41 kali menang dan enam kali kalah dengan 33 menang KO.
Ini juga menjadi perpisahan Cotto yang menyedihkan setelah berkarier selama 20 tahun di dunia adu jotos tersebut. Petinju berusia 37 tahun itu mendapat pukulan serius di ronde kedua dan keempat. Namun, sempat bangkit di pertengahan pertarungan dan mencuri poin di ronde terakhir (12). Namun, tetap kalah dalam keputusan wasit.
"Saya tidak ingin membuat alasan," kata Cotto. "Sadam memenangkan pertarungan. Ini adalah pertarungan terakhir saya, dan saya baik-baik saja, dan ingin bahagia di rumah bersama keluarga."
Ali, petinju Amerika Serikat keturunan Yaman, itu membuktikan prediksi penggemar tinju dunia yang menjagokan dirinya. Pertarungan yang berlangsung 12 ronde tersebut menghasilkan keputusan bulat para hakim. Ali menang angka mutlak berdasarkan penilaian hakim Julie Lederman (115-113), Eric Marlinski (116-112), dan Steve Weisfeld (115-113).
Dengan sukses ini Ali memperpanjang rekor kemenangan 26 kali menang (14 menang KO) dan 1 kali kalah. Dalam kariernya, Ali juga jawara Olimpiade 2008. "Saya bekerja keras untuk memenangkan ini," kata Ali. "Saya memanfaatkan pertarungan ini, dan saya memastikannya untuk memperhitungkan ini. Saya bersyukur kepada Tuhan, dan juga berterima kasih kepada Tim Cotto."
Sementara bagi Cotto, ini merupakan kekalahan keenam sepanjang kariernya, dan dia harus rela melepaskan sabuk juaranya yang baru dia kenakan pada bulan Agustus lalu. Cotto mencatat rekor 41 kali menang dan enam kali kalah dengan 33 menang KO.
Ini juga menjadi perpisahan Cotto yang menyedihkan setelah berkarier selama 20 tahun di dunia adu jotos tersebut. Petinju berusia 37 tahun itu mendapat pukulan serius di ronde kedua dan keempat. Namun, sempat bangkit di pertengahan pertarungan dan mencuri poin di ronde terakhir (12). Namun, tetap kalah dalam keputusan wasit.
"Saya tidak ingin membuat alasan," kata Cotto. "Sadam memenangkan pertarungan. Ini adalah pertarungan terakhir saya, dan saya baik-baik saja, dan ingin bahagia di rumah bersama keluarga."





















